Minggu, 24 Oktober 2010
Fiqi Zakat...
ZAKAT
Zakat adalah salah satu rukun dari rukun-rukun Islam yang wajib bagi setiap orang muslim untuk menunaikannya. Ada kurang lebih 32 ayat dalam Al Qur'an yang selalu menyebutkan sholat dan diikuti dengan perintah menunaikan zakat. Zakat telah disyare’atkan semenjak tahun kedua hijriyyah dan sebelumnya telah diwajibkan secara mutlak di Mekkah. Zakat merupakan aset ummat yang memberikan pelayanan pada para mustahiqnya terlebih pada kaum fakir dan miskin sehinga mereka merasa ada dalam lindungan dan pemeliharaan Khilafah Islam. Bagi siapa saja yang membangkang untuk membayarkan zakatnya denagn i’tiqod maka ia telah kafir dengan apa yang telah diwajibkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan rosul-NYa, oleh karena itu golongan orang-orang tersebut harus diperangi hingga mau membayarkannya kembali.
Zakat adalah salah satu rukun dari rukun-rukun Islam yang wajib bagi setiap orang muslim untuk menunaikannya. Ada kurang lebih 32 ayat dalam Al Qur'an yang selalu menyebutkan sholat dan diikuti dengan perintah menunaikan zakat. Zakat telah disyare’atkan semenjak tahun kedua hijriyyah dan sebelumnya telah diwajibkan secara mutlak di Mekkah. Zakat merupakan aset ummat yang memberikan pelayanan pada para mustahiqnya terlebih pada kaum fakir dan miskin sehinga mereka merasa ada dalam lindungan dan pemeliharaan Khilafah Islam. Bagi siapa saja yang membangkang untuk membayarkan zakatnya denagn i’tiqod maka ia telah kafir dengan apa yang telah diwajibkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan rosul-NYa, oleh karena itu golongan orang-orang tersebut harus diperangi hingga mau membayarkannya kembali.
Categories
Fiqih
Sabtu, 23 Oktober 2010
KEUTAMAAN MEMBACA ALQUR'AN
KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN
1. Pahala bacaan al-Qur’an itu sebagai pemberi syafa`at/pertolongan di hari Kiamat bagi orang yang membacanya
Dari Abu Umamah ia berkata, Saya mendengar Rasulullah bersabda, “Bacalah al-Qur’an, karena ia (pahala bacaan al-Qur’an) akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa`at bagi orang yang membacanya.” (HR. Muslim)
2. Sebaik-baik muslim adalah yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain
Dari ‘Utsman bin ‘Affan ia berkata, Rasulullah telah bersabda, “Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhary)
3. Derajat orang yang pandai tentang al-Qur’an seperti malaikat, sedangkan yang terbata-bata membacanya mendapatkan dua pahala
Dari ‘Aisyah ia berkata, Rasulullah telah bersabda, “Orang yang membaca al-Qur’an dan ia pandai dalam membacanya maka ia bersama para Malaikat yang mulia lagi taat (di akhirat), sedang orang yang membaca al-Qur’an dengan tertatih-tatih/terputus-putus dan bacaan itu terasa sulit baginya maka ia mendapatkan dua pahala.” (HR. al-Bukhary dan Muslim)
4. Orang mukmin yang membaca al-Qur’an memiliki sifat seperti buah jeruk, sedangkan yang tidak membacanya seperti buah kurma
Dari Abu Musa al-Asy’ary ia berkata, Rasulullah telah bersabda, “Perumpamaann orang mukmin yang membaca al-Qur’an bagaikan utrujah/buah jeruk; aromanya harum dan rasanya enak, dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan buah kurma; yang tidak ada aromanya tetapi rasanya manis. Sedangkan perumpamaan orang munafiq yang membaca al-Qur’an bagaikan bunga raihanah; aromanya harum namun rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafiq yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan buah handzalah; tidak ada aromanya dan rasanya pahit.” (HR. al-Bukhary dan Muslim)
5. Pahala satu huruf al-Qur’an yang dibaca bernilai 10 pahala
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, Rasulullah telah bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari al-Qur’an maka baginya satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh, aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, akan tetapi alif itu satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR. at-Tirmidzy, ia berkata, “hadits ini hasan shahih”)
6. Orang yang lisannya tidak digunakan untuk membaca al-Qur’an bagaikan rumah yang rusak
Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata, Rasulullah bersabda, “Sesunguhnya orang yang di dalam hatinya tidak terdapat sedikitpun dari al-Qur’an maka ia bagaikan rumah yang rusak/berantakan.” (HR. at-Tirmidzy, ia berkata, “hadits ini hasan shahih”)
1. Pahala bacaan al-Qur’an itu sebagai pemberi syafa`at/pertolongan di hari Kiamat bagi orang yang membacanya
عن أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :" اقْرَأُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعاً لأَصْحَابِهِ
Artinya: Dari Abu Umamah ia berkata, Saya mendengar Rasulullah bersabda, “Bacalah al-Qur’an, karena ia (pahala bacaan al-Qur’an) akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa`at bagi orang yang membacanya.” (HR. Muslim)
2. Sebaik-baik muslim adalah yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain
وَعَن عُثْمَانَ بنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ قَالَ :" قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَ عَلَّمَهُ
Artinya: Dari ‘Utsman bin ‘Affan ia berkata, Rasulullah telah bersabda, “Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhary)
3. Derajat orang yang pandai tentang al-Qur’an seperti malaikat, sedangkan yang terbata-bata membacanya mendapatkan dua pahala
وَعَن عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنهُمَا قَالَتْ :" قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْأنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
Artinya: Dari ‘Aisyah ia berkata, Rasulullah telah bersabda, “Orang yang membaca al-Qur’an dan ia pandai dalam membacanya maka ia bersama para Malaikat yang mulia lagi taat (di akhirat), sedang orang yang membaca al-Qur’an dengan tertatih-tatih/terputus-putus dan bacaan itu terasa sulit baginya maka ia mendapatkan dua pahala.” (HR. al-Bukhary dan Muslim)
4. Orang mukmin yang membaca al-Qur’an memiliki sifat seperti buah jeruk, sedangkan yang tidak membacanya seperti buah kurma
و عن أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنهُ قَالَ :" قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مِثْلُ اْلأُتْرُجَّةِ رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مِثْلُ التَّمْرَةِ لاَ رِيْحَ لَهَا وطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ الْمِنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمِثْلِ الرَّيْحَانَةِ رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ الْمِنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمِثْلِ الْحَنظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيْحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ
Artinya: Dari Abu Musa al-Asy’ary ia berkata, Rasulullah telah bersabda, “Perumpamaann orang mukmin yang membaca al-Qur’an bagaikan utrujah/buah jeruk; aromanya harum dan rasanya enak, dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan buah kurma; yang tidak ada aromanya tetapi rasanya manis. Sedangkan perumpamaan orang munafiq yang membaca al-Qur’an bagaikan bunga raihanah; aromanya harum namun rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafiq yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan buah handzalah; tidak ada aromanya dan rasanya pahit.” (HR. al-Bukhary dan Muslim)
5. Pahala satu huruf al-Qur’an yang dibaca bernilai 10 pahala
وَعَن ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنهُمَا قَالَ :" قَالَ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : مَنْ قَرَأَ حَرْفاً مِنْ كِتَابِ الله فَلَهُ حَسَنَةٌ، وَ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُولُ : الـم حَرْفٌ، وَلَكِنْ : أَلِف حَرْفٌ، ٌ لاَمٌ حَرْفٌ، مِيْمٌ حَرْفٌ
Artinya: Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, Rasulullah telah bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari al-Qur’an maka baginya satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh, aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, akan tetapi alif itu satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR. at-Tirmidzy, ia berkata, “hadits ini hasan shahih”)
6. Orang yang lisannya tidak digunakan untuk membaca al-Qur’an bagaikan rumah yang rusak
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ :" إِنَّ الَّذِيْنَ لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ
Artinya: Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata, Rasulullah bersabda, “Sesunguhnya orang yang di dalam hatinya tidak terdapat sedikitpun dari al-Qur’an maka ia bagaikan rumah yang rusak/berantakan.” (HR. at-Tirmidzy, ia berkata, “hadits ini hasan shahih”)
Categories
Fadhilah
Selasa, 19 Oktober 2010
KEUTAMAAN WUDHU
KEUTAMAAN WUDHU
1. Dibangkitkan di hari kiamat dengan keadaan bercahaya pada anggota tubuh yang digunakan untuk berwudhu
Dari Abu Hurairah ia berkata, Saya mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya ummatku dipanggil pada hari Kiamat dalam keadaan bersinar wajah, tangan dan kaki (yang digunakan untuk berwudlu) karena pengaruh wudlu, maka barangsiapa diantara kamu yang sangggup memperpanjang sinarnya hendaklah ia melakukannya.” (HR. al-Bukhary dan Muslim)
2. Diberi perhiasan dari Jannah berupa emas, perak dan permata
Dari beliau (Abu Hurairah) juga ia berkata, Saya mendengar kekasihku Rasulullah bersabda: “Perhiasan orang mukmin (di Jannah) akan sampai pada tempat-tempat yang dibasahi oleh air wudlu.” (HR. Muslim)
3. Mengeluarkan dosa-dosa kecil dari tubuhnya
Dari ‘Utsman bin ‘Affan ia berkata, Rasulullah telah bersabda, “Barangsiapa wudlu lalu menyempurnakan wudlunya maka kesalahan-kesalahannya keluar dari tubuhnya hingga keluar dari bawah kukunya.” (HR. Muslim)
4. Segala dosa kecilnya yang telah lalu akan diampuni
Dari beliau (‘Utsman bin ‘Affan) juga ia berkata, Saya melihat Rasulullah wudlu seperti wudlu yang aku lalukan ini kemudian berkata, “Barangsiapa yang wudlu seperti ini maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, sedangkan shalat dan perjalanannya ke masjid adalah tambahan kebaikan.” (HR. Muslim)
5. Dosa-dosa kecilnya akan gugur bersamaan dengan jatuhnya air bekas wudhu
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Apabila seorang muslim/mukmin berwudlu, lalu ia membasuh wajahnya; maka akan keluarlah dari wajahnya seluruh kesalahan (dosa) yang pernah ia lakukan dengan kedua matanya bersamaan dengan (jatuhnya) air, atau bersama tetesan air yang terakhir. Apabila ia membasuh kedua tangannya; maka akan keluar dari kedua tangannya semua kesalahan (dosa) yang ia lakukan dengan menggunakan kedua tangannya bersama dengan (jatuhnya) air, atau bersama tetesan air yang terakhir. Apabila ia membasuh kedua kakinya; maka keluarlah semua kesalahan yang ia lakukan dengan menggunakan kedua kakinya bersama dengan (jatuhnya) air, atau bersama tetesan air yang terakhir, sehingga ia selesai (dari wudlu) dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.” (HR. Muslim)
6. Dosa-dosanya akan diampuni dan derajatnya akan dianggkat
Dan dari beliau (Abu Hurairah) juga, sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang dapat menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat (seseorang)?” mereka (para Shahabat) menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, “Sempurnakanlah wudlu pada saat-saat sulit (susah/payah), banyak berjalan menuju masjid dan menunggu tibanya waktu shalat, maka hal itu merupakan ribath, maka itu merupakan ribath (menahan diri dari amalan buruk; untuk melakukan kebaikan).” (HR. Muslim)
7. Masuk Jannah melalui pintu mana saja yang diinginkan
Dari Umar bin Khaththab, dari Rasulullah ia bersabda, “Tidaklah seorang diantara kalian wudlu lalu ia menyempurnakan wudlunya kemudian berdo’a (artinya) “Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi dengan sebenar-benarnya selain Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya” melainkan dibukakan baginya pintu-pintu Jannah yang (berjumlah) delapan, ia boleh masuk melalui pintu mana saja yang ia sukai.” (HR. Muslim)
1. Dibangkitkan di hari kiamat dengan keadaan bercahaya pada anggota tubuh yang digunakan untuk berwudhu
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ قَالَ :" سَمِعْتُ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِنَّ أَمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرّاً مُحَجَّلِيْنَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوْءِ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيْلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ
Artinya: Dari Abu Hurairah ia berkata, Saya mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya ummatku dipanggil pada hari Kiamat dalam keadaan bersinar wajah, tangan dan kaki (yang digunakan untuk berwudlu) karena pengaruh wudlu, maka barangsiapa diantara kamu yang sangggup memperpanjang sinarnya hendaklah ia melakukannya.” (HR. al-Bukhary dan Muslim)
2. Diberi perhiasan dari Jannah berupa emas, perak dan permata
وَعَنهُ قَالَ : سَمِعْتُ خَلِيْلِي صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ :" تَبْلُغُ الْحِليَةُ مِنَ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ تَبْلُغُ الْوُضُوْءُ
Artinya: Dari beliau (Abu Hurairah) juga ia berkata, Saya mendengar kekasihku Rasulullah bersabda: “Perhiasan orang mukmin (di Jannah) akan sampai pada tempat-tempat yang dibasahi oleh air wudlu.” (HR. Muslim)
3. Mengeluarkan dosa-dosa kecil dari tubuhnya
وعَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانِ رَضِيَ اللهُ عَنهُ قَالَ :" قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ خَرَجَتْ خَطَايَايَ مِنْ جَسَدَهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ
Artinya: Dari ‘Utsman bin ‘Affan ia berkata, Rasulullah telah bersabda, “Barangsiapa wudlu lalu menyempurnakan wudlunya maka kesalahan-kesalahannya keluar dari tubuhnya hingga keluar dari bawah kukunya.” (HR. Muslim)
4. Segala dosa kecilnya yang telah lalu akan diampuni
وعَنْهُ قَالَ : رَأَيْتُ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ مِثْلَ وُضُوْئِي هَذَا ثُمَّ قَالَ :" مَنْ تَوَضَّأَ هَكَذَا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَكَانَتْ صَلاَتُهُ وَمَشْيُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ نَافِلَةً
Artinya: Dari beliau (‘Utsman bin ‘Affan) juga ia berkata, Saya melihat Rasulullah wudlu seperti wudlu yang aku lalukan ini kemudian berkata, “Barangsiapa yang wudlu seperti ini maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, sedangkan shalat dan perjalanannya ke masjid adalah tambahan kebaikan.” (HR. Muslim)
5. Dosa-dosa kecilnya akan gugur bersamaan dengan jatuhnya air bekas wudhu
وعَن أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ أَنََّ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ – أَوِ الْمُؤْمِنُ – فَغَسَلَ وَجْهَهُ ؛ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيْئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرَةِ الْمَاءِ – فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ ؛ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيْئَةٍ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الَْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرَةِ الْمَاءِ – فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ ؛ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيْئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلاَهُ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرَةِ الْمَاءِ – حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيّاً مِنَ الذُّنُوْبِ
Artinya: Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Apabila seorang muslim/mukmin berwudlu, lalu ia membasuh wajahnya; maka akan keluarlah dari wajahnya seluruh kesalahan (dosa) yang pernah ia lakukan dengan kedua matanya bersamaan dengan (jatuhnya) air, atau bersama tetesan air yang terakhir. Apabila ia membasuh kedua tangannya; maka akan keluar dari kedua tangannya semua kesalahan (dosa) yang ia lakukan dengan menggunakan kedua tangannya bersama dengan (jatuhnya) air, atau bersama tetesan air yang terakhir. Apabila ia membasuh kedua kakinya; maka keluarlah semua kesalahan yang ia lakukan dengan menggunakan kedua kakinya bersama dengan (jatuhnya) air, atau bersama tetesan air yang terakhir, sehingga ia selesai (dari wudlu) dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.” (HR. Muslim)
6. Dosa-dosanya akan diampuni dan derajatnya akan dianggkat
وَعَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا وَ يَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ ؟" قَالُوا :" بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ،" قَالَ :" إِسْبَاغُ الْوُضُوْءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ، فَذِلِكُمُ الرِّبَاطُ فَذِلِكُمُ الرِّبَاطُ
Artinya: Dan dari beliau (Abu Hurairah) juga, sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang dapat menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat (seseorang)?” mereka (para Shahabat) menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, “Sempurnakanlah wudlu pada saat-saat sulit (susah/payah), banyak berjalan menuju masjid dan menunggu tibanya waktu shalat, maka hal itu merupakan ribath, maka itu merupakan ribath (menahan diri dari amalan buruk; untuk melakukan kebaikan).” (HR. Muslim)
7. Masuk Jannah melalui pintu mana saja yang diinginkan
وَعَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأَ فَيُبْلِغَ – فَيُسْبِغَ الْوُضُوءَ – ثُمَّ يَقُولُ :" أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ ؛ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الَْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ
Artinya: Dari Umar bin Khaththab, dari Rasulullah ia bersabda, “Tidaklah seorang diantara kalian wudlu lalu ia menyempurnakan wudlunya kemudian berdo’a (artinya) “Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi dengan sebenar-benarnya selain Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya” melainkan dibukakan baginya pintu-pintu Jannah yang (berjumlah) delapan, ia boleh masuk melalui pintu mana saja yang ia sukai.” (HR. Muslim)
Categories
Fadhilah
وصية أخيكم الدكتور / عمر عبد الرحمن إلى أبناء الإسلام في مصر والعالم
هذه الوصية تنشر لأول مرة وكان الشيخ - فك الله أسره - كتبها بمناسبة زفة التجديد لولاية ثالثة لمبارك.
قولوا للظلم ..لا
وصية أخيكم الدكتور / عمر عبد الرحمن إلى أبناء الإسلام في مصر والعالم
غرة شوال 1413هـ/ مارس 1993م
قولوا للظلم .. لا
" سيد الشهداء : حمزة بن عبد المطلب ، ورجل قام إلى إمام جائر فأمره ونهاه .. فقتله "
إيه يا مسلِمةَ مصر الأَباة ، أُحس بدنو الأجل ، وقرب لقاء الله ، ولا بد لي من وصية .. فإليكموهـا يا أحب البشر إلى قلبي ..
إليكموها يا أهلي وعشيرتي وذوي القربى مني ..
إليكموها من أعماق قلبي خالصة لوجه ربي ..
إليكموها يخالطها دمعي ، ووددت أن لو يحفرها دمي : ( قولوا للظلم .. لا )
قولوها يا علماء مصر .. لا
لا .. لغياب شريعتنا سبعين عاما ..
لا .. لكل المدَّعين أن الشريعة مطبقة في مصر !
أين الشريعة في الدساتير العلمانية ؟!
أين الشريعة في الاقتصاد الربوي ؟!
أين الشريعة في الإعلام التحللي ؟!
أين الشريعة في السلم والحرب والتعليم والقضاء ؟!
إن لم يكن للشريعة عندكم في كل هذا حظ ونصيب !!!
فلستم ولاة أمورنا .. ولا سمع ولا طاعة لكم علينا .
قولوها يا ساسة مصر الشرفاء .. لا
لا .. لديكتاتورية الفرد الأوحد ، والحزب الأوحد ، والرأي الأوحد ..
لا .. للتبعية الذليلة للشرعية الدولية الاستكبارية ، ولقد آن أوان الشرعية الإلهية الربانية
لا .. لاثنتي عشرة سنة من قوانين الطوارئ والإرهاب ..
لا .. للمحاكمات العسكرية الباطلة والاعتقالات التعسفية الجائرة ..
لا .. لانتهاكات حقوق المسلمين والتي تشهد بها كافة المؤسسات المعنية كل أوان وحين .
قولوها يا قضاة مصر .. لا
لا .. لن نكون قضاة إلى النار ، بل قضاة إلى الجنة بإذن الله ..
لا .. لن نحكم في خيرة شباب مصر إلا بالعدل الذي أنزله الله :
وإذا حكمتم بين الناس أن تحكموا بالعدل} .. { وأن احكم بينهم بما أنزل الله }
ليس منا من يظلم هذا الشباب .. ليس منا من يحكمون بإعدامهم .. ليس منا من يُرضُون حكَّامهم بسخط سيدهم ومولاهم .
قولوها يا خير أجناد الأرض .. لا
لا .. لن نقاتل إلا في سبيل الله .. {الذين آمنوا يقاتلون في سبيل الله}
لا .. لن نقاتل في سبيل أمريكا وأعوانها .. { والذين كفروا يقاتلون في سبيل الطاغوت }
لا .. وكفانا دمار العراق ..
لا .. وكفانا خذلانا لمسلمي البوسنة ..
لا .. لن نكون طوع إشارة أمريكا التي تدعي أن إيران والسودان يرعيان الإرهاب !!.
لا ..لن نكون أداة للعدو رابين الذي يصرح كذبا أن الخطر الحقيقي قادم من الأصوليين!! فأين عتاة اليهود إذن؟! وأين مجرمو الصرب إذن ؟! أهم حمائم السلام ؟! .. أم رسل المحبة ؟!!!
قلها يا شعب مصر الأبي .. لا
لا .. لسنا الأغلبية الصامتة .. بل الثائرة بإذن الله ، الثائرة في إدكو وأبى حماد وقليوب ، الثائرة في القاهرة وأسيوط وأسوان .. فلا تتباكوا أيها الحكام على فقرنا وجوعنا ..وأظهروا ذممكم المالية ..وقولوا إن كنتم شرفاء ذوي أيد بيضاء من أين لكم مئات الملايين من الدولارات !!!
وقولوا لسنا بمشاركين في قتل الموحدين ، فلَكَم رأيناكم بأعيننا وأنتم تحصدون المصلين العزل في قلب بيوت الله !!!
لسنا بمشيعين جنائز البغاة القتلة ، بل مشيعون الشباب المتوضئ الذي كان آخر عمله صلاة وصوم ، وآخر كلامه " لا إله إلا الله "..
لا .. ولن نكون مغيبين بعد اليوم فلقد مضى صمت القبور ..
قولوها يا مجاهدي مصر .. لا
ولا تهنوا لما يصيبكم في سبيل الله ،ولا تضعفوا ولا تستكينوا : { إن تكونوا تألمون فإنهم يألمون كما تألمون وترجون من الله ما لا يرجون { عاقبوا بمثل ما عوقبتم به فلئن بغُي عليكم بعدها فاعلموا أن الله نصيركم :
ذلك ومن عاقب بمثل ما عوقب به ثم بُغي عليه لينّصُرنه الله }
زلزلوا منصات القضاء مرتّلين : { فاقضِ ما أنت قاضٍ إنما تقضي هذه الحياة الدنيا }
حطموا الجلادين في ساحات التعذيب مُرددين : " إن الله يعذب الذين يعذبون الناس في الدنيا "
تفاءلوا بالتهديدات الفرعونية فهي والله آخر أمارات اليأس وأول قطرات الغيث … اثبتوا في وجه المحاكمات الهمجية فإن دماء شهداء الصبر هي التي تحفر للأمم أحرف النصر ..
وها أنا ذا أقولها معكم .. لا
لا .. لك يا مبارك ونظامك وأوتادك ومشانقك وحديدك ونارك … لا بقاء لدولة طغيانك ساعة ، إنما البقاء لدولة الإسلام إلى قيام الساعة .
ألا فامكري بي أيتها الأعادي أو لا تمكري ، كيدي لي أو لا تكيدي ، فلئن نُفيت فالهجرة درب النبي الحبيب ، ولئن سجنت فلقد ارتمى في السجن يوسف الكريم ، ولئن ذبحت فلقد سيق للذبح يحيى السيد الجسور .
هذه هي عقيدتي ورسالتي ، ولئن خنت فلبئست البضاعة .. ولقد اخترت بحمد الله " أداء الأمانة " منذ زمان بعيد ، فاختاروا لأنفسكم من الآن فهذا أوان الاختيار .
وتالله يا مصر ..
لوددت أن يسيل في الله دمي دفّاقاً على ثراك ، وأن يُصلي عليَّ أطهر أبنائك ، وأن يحملني إلى القبر خيرة رجالك .. فعندها أمضي مطمئناً إلى ربٍ كريم ، وتمضون أيها المجاهدون تكملون أطهر طريق ..
ألا فاتقوا الله حق تقاته ، وجاهدوا في الله حق جهاده ، وحتماً بإذن الله سنلتقي .. سنلتقي على أعتاب دولة الإسلام ، أو سنقرع معا أبواب دار السلام .
وتقبل الله منا ومنكم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
وأسألكم الدعاء
أخوكم / عمر عبد الرحمن
Categories
Nasehat
Udhiyah Dalam Tinjauan syar'i
Udhiyah Dalam Tinjauan syar'i
فَصَلِ لِرَبِكَ وَنْحَرْ
"Maka sholatlah untuk tuhanmu dan berkurbanlah." (Q.S. Al-Kautsar: 2).
إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
"Jika kalian melihat bulan sabit dzul hijah, sedangkan salah seorang kalian ingin berkurban, maka hendaknya ia menahan rambut dan kukunya."(H.R. Aljama'ah kecuali Bukhari)
Categories
Fiqih
Bung Tomo : Arsitek Pasukan Bom Syahid
Bung Tomo : Arsitek Pasukan Bom Syahid
Cita-cita sejati seorang pejuang besar, ingin mendidik anak anak muda bangsa menjadi patriot bangsa. Baginya perjuangan tak memiliki arti, bila tak ada generasi penerus yang memiliki jiwa patriot.
Demikian sedikit dari bagian rencana masa depan seorang patriot bangsa yang lahir di Surabaya pada tanggal 3 Oktober 1920, dengan nama Sutomo dan dikenal oleh bangsa ini sebagai Bung Tomo. Sebagai pejuang memang tak henti-hentinya terus memikirkan nasib bangsa. Bung Tomo khawatir jika tak ada generasi penerus yang berjiwa patriot, maka bangsa Indonesia akan hancur dan tentu akan kembali di jajah dalam bentuk lain.
Jiwa patriot yang tertanam dalam dada Bung Tomo, adalah jiwa patriot yang lahir dari kekuatan iman seorang Muslim. Bung Tomo meyakini bahwa berjuang dengan niat ikhlas membela kemerdekaan serta kedaulatan bangsa atas nama Allah, maka tak ada satu pun kerugian yang ia dapatkan. Untuk itulah, saat pemerintah waktu itu dianggap terlalu lambat dalam menghadapi pergerakan Belanda yang membonceng sekutu, Bung Tomo bersama rakyat melahirkan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI), dan sejak 12 Oktober 1945 ia menjadi pucuk pimpinan di BPRI.
Jumat, 11 Juni 2010
BERINFAQ DI JALAN ALLAH (2)
Di antara kunci-kunci rizki lain adalah berinfaq di jalan Allah. Pembasahan masalah ini –dengan memohon taufiq dari Allah- akan saya lakukan melalui du poin berikut :
Kedua : Dalil Syar’i Bahwa Berinfaq Di Jalan Allah Adalah Termasuk Kunci-Kunci Rizki.
[3]. Dalil Lain Adalah Hadits Riwayat Muslim.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepadanya.
“Artinya : Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam!’ berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberik rizki) kepadamu” [Shahih Muslim, Kitab Az-Zakah, Bab Al-Hatstsu ‘alan Nafaqah wa Tabsyiril Munfiq bil Khalf, no. 36 (963), 2/690-691]BERINFAQ DI JALAN ALLAH (2)
Oleh
Syaikh Dr Fadhl Ilahi
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan [2/2]
Allahu Akbar ! Betapa besar jaminan orang yang berinfak di jalan Allah ! Betapa mudah dan gampang jalan mendapatkan rizki ! Seorang hamba berinfak di jalan Allah, lalu Dzat Yang DitanganNya kepemilikan segala sesuatu memberikan infak (rizki) kepadanya. Jika seorang hamba berinfak sesuai dengan kemampuanya maka Dzat Yang memiliki perbendaharaan langit dan bumi serta kerajaan segala sesuatu akan memberi infak (rizki) kepadanya sesuai dengan keagungan, kemuliaan dan kekuasanNya.
Imam An-Nawawi berkata : “Firman Allah, ‘Berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberi rizki) kepadamu’ adalah makna dari firman Allah dalam Al-Qur’an.
“Artinya : Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Dialah yang akan menggantinya” [Saba : 39]
Ayat ini mengandung anjuran untuk berinfak dalam berbagai bentuk kebaikan, serta berita gembira bahwa semua itu akan diganti atas karunia Allah Ta’ala. [Syarh An-Nawawi 7/79]
[4]. Dalil Lain Bahwa Berinfak Di Jalan Allah Adalah Diantara Kunci-Kunci Rizki.
Apa yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Tidaklah para hamba berada di pagi hari kecuali di dalamnya terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdo’a, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang berinfak ganti (dari apa yang ia infakkan)’. Sedang yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menahan (hartanya) kebinasaan (hartanya)” [Shahihul Bukhari, Kitab Az-Zakah, Bab Firman Allah Tentang Do’a : Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menginfakkan hartanya’ no. 1442, 3/304]
Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa terdapat malaikat yang berdo’a setiap hari kepada orang yang berinfak agar diberikan ganti oleh Allah. Maksudnya –sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Mulla Ali Al-Qari- adalah ganti yang besar. Yakni ganti yang baik, atau ganti di dunia dan ganti di akhirat. Hal itu berdasarkan firman Allah.
“Artinya : Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Dialah yang akan menggantinya. Dan Dia-lah sebaik-baik Pemberi rezki” [Saba : 39] [4]
Dan diketahui secara umum bahwa do’a malaikat adalah dikabulkan (Lihat Umdatul Qari, 8/307), sebab tidaklah mereka mendo’akan bagi seorang melainkan dengan izinNya. Allah berfirman.
“Artinya : Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya” [Al-Anbiya : 28]
[5]. Dalil Lain Adalah Apa Yang Diriwayatkan Oleh Imam Al-Baihaqi
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Berinfaklah wahai Bilal ! Jangan takut dipersedikit (hartamu) oleh Dzat Yang memiliki Arsy” [5]
Aduhai, alangkah kuat jaminan dan karunia Allah bagi orang yang berinfak di jalanNya ! Apakah Dzat Yang memiliki Arsy akan menghinakan orang yang berinfak di jalanNya, sehingga ia mati karena miskin dan tak punya apa-apa ? Demi Allah, tidak akan demikian!
Al-Mulla Ali Al-Qari menjelaskan kata “Iqlaalaa” dalam hadits tersebut berkata, ‘Maksudnya, dijadikan miskin dan tidak punya apa-apa’, Artinya. ‘Apakah engkau takut akan disia-siakan oleh Dzat Yang mengatur segala urusan dari langit ke bumi ?’. Dengan kata lain, ‘Apakah kamu takut untuk digagalkan cita-citamu dan disedikitkan rzikimu oleh Dzat Yang rahmatNya meliputi penduduk langit dan bumi, orang-orang mukmin dan orang-orang kafir, burung-burung dan binatang melata?” [Murqatul Mafataih, 4/389]
[6]. Berapa Banyak Bukti-Bukti Dalam Kitab-Kitab Sunnah (Hadits), Sirah (Perjalanan Hidup), Tarajum (Biografi) Tarikh (Sejarah), Bahkan Hingga Dalam Kenyataan-Kenyataan Yang Kita Alami Saat Ini Yang Menunjukkan Bahwa Allah Mengganti Rizki HambaNya Yang Berinfak Di Jalan Allah.
Berikut ini kami ringkaskan satu bukti dalam masalah ini. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda.
“Artinya : Ketika seorang laki-laki berada di suatu tanah lapang dari bumi ini, tiba-tiba ia mendengar suara dari awan, ‘Siramilah kebun si fulan!’. Maka awan itu bergerak menjauh dan menuangkan airnya di areal tanah yang penuh dengan batu-batu hitam. Di sana ada aliran air yang menampung air tersebut. Lalu orang itu mengikuti ke mana air itu mengalir. Tiba-tiba dia (melihat) seorang laki-laki yang berdiri di kebunnya. Ia mendorong air tersebut dengan sekopnya (ke dalam kebunnya). Kemudian ia bertanya, ‘Wahai hamba Allah!, siapa namamu ?’ Ia menjawab, ‘Fulan’, yakni nama yang didengar di awan. Ia balik bertanya, ‘Wahai hamba Allah!, kenapa engkau menanyakan namaku ?’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang menurunkan air ini. Suara itu berkata, ‘Siramilah kebun si fulan!. Dan itu adalah namamu. Apa sesungguhnya yang engkau lakukan ? Ia menjawab, Jika itu yang engkau tanyakan, maka sesungguhnya aku memperhitungkan hasil yang didapat dari kebun ini, lalu aku bersedekah dengan sepertiganya, dan aku makan beserta keluargaku sepertiganya lagi, kemudian aku kembalikan (untuk menanam lagi) sepertiganya” [Shahih Muslim, Kitab Az-Zuhd wa Raqaiq, Bab Ash-Shadaqah alal Masakin, no. 45 (2984), 4/2288]
Dalam riwayat lain disebutkan.
“Artinya : Dan aku jadikan sepertiganya untuk orang-orang miskin dan peminta-minta serta ibnu sabil (orang-orang yang dalam perjalanan)” [Op. cit, 4/2288]
Imam An-Nawawi berkata : “Hadits itu menjelaskan tentang keutamaan bersedekah dan berbuat baik kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Juga keutamaan seseorang yang makan dari hasil kerjanya sendiri, termasuk keutamaan memberi nafkah kepada keluarga” [Op. cit. 18/115]
[Disalin dari buku Mafatiihur Rizq fi Dhau’il Kitab was Sunnah, edisi Indonesia Kunci-Kunci Rizki Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah hal 72-74, Penerjemah Ainul Haris Arifin, Lc. Darul Haq]
_________
Foote Note.
[3] At-Tafsirul Qayyim, hal.168, Lihat pula, Fathul Qadir oleh Asy-Syaukani 1/438 dimana dia berkata : “Fadhl (karunia) itu adalah bahwa Allah akan mengganti kepada mereka dengan sesuatu yang lebih utama dari apa yang mereka infakkan. Maka Allah meluaskan rizkinya dan memberinya nikmat di akhirat dengan sesuatu yang lebih utama lebih banyak, lebih agung dan lebih indah.
[4] Murqatul Mafatih 4/366. Sayyid Muhammad Rasyid Ridha berkata : “Makna do’a ini menurut saya adalah bahwa diantara sunnah-sunnah Allah adalah Dia memberikan ganti kepada orang yang berinfak dengan memudahkan sebab-sebab rizki baginya. Lalu Ia ditinggikan derajatnya di dalam hati manusia. Sebaliknya orang yang bakhil (kikir) diharamkan dari yang demikian” [Tafsirul Manar, 4/74]
[5] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (Lihat Misykatul Mashabih, Kitab Az-Zakah, Bab Al-Infaq wa Karahiyatul Imsak, no. 1885, dengan diringkas 1/590-591) Syaikh Al-Albani berkata, ‘Hadits ini shahih karena jalur-jalurnya’ (Hamisy Misyakatil Mashabih 1/591) Lihat pula, Majma’uz Zawa’id wa Manba’ul Fawa’id, 3/126, kasyful Khafa wa Maziliul Ilbas 1/243-244, Tanqihur Ruwat fi Takhriji Ahaditsil Misykat, Syaikh Ahmad Hasan Ad-Dakhlawi, 2/19
Kedua : Dalil Syar’i Bahwa Berinfaq Di Jalan Allah Adalah Termasuk Kunci-Kunci Rizki.
[3]. Dalil Lain Adalah Hadits Riwayat Muslim.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepadanya.
“Artinya : Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam!’ berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberik rizki) kepadamu” [Shahih Muslim, Kitab Az-Zakah, Bab Al-Hatstsu ‘alan Nafaqah wa Tabsyiril Munfiq bil Khalf, no. 36 (963), 2/690-691]BERINFAQ DI JALAN ALLAH (2)
Oleh
Syaikh Dr Fadhl Ilahi
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan [2/2]
Allahu Akbar ! Betapa besar jaminan orang yang berinfak di jalan Allah ! Betapa mudah dan gampang jalan mendapatkan rizki ! Seorang hamba berinfak di jalan Allah, lalu Dzat Yang DitanganNya kepemilikan segala sesuatu memberikan infak (rizki) kepadanya. Jika seorang hamba berinfak sesuai dengan kemampuanya maka Dzat Yang memiliki perbendaharaan langit dan bumi serta kerajaan segala sesuatu akan memberi infak (rizki) kepadanya sesuai dengan keagungan, kemuliaan dan kekuasanNya.
Imam An-Nawawi berkata : “Firman Allah, ‘Berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberi rizki) kepadamu’ adalah makna dari firman Allah dalam Al-Qur’an.
“Artinya : Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Dialah yang akan menggantinya” [Saba : 39]
Ayat ini mengandung anjuran untuk berinfak dalam berbagai bentuk kebaikan, serta berita gembira bahwa semua itu akan diganti atas karunia Allah Ta’ala. [Syarh An-Nawawi 7/79]
[4]. Dalil Lain Bahwa Berinfak Di Jalan Allah Adalah Diantara Kunci-Kunci Rizki.
Apa yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Tidaklah para hamba berada di pagi hari kecuali di dalamnya terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdo’a, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang berinfak ganti (dari apa yang ia infakkan)’. Sedang yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menahan (hartanya) kebinasaan (hartanya)” [Shahihul Bukhari, Kitab Az-Zakah, Bab Firman Allah Tentang Do’a : Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menginfakkan hartanya’ no. 1442, 3/304]
Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa terdapat malaikat yang berdo’a setiap hari kepada orang yang berinfak agar diberikan ganti oleh Allah. Maksudnya –sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Mulla Ali Al-Qari- adalah ganti yang besar. Yakni ganti yang baik, atau ganti di dunia dan ganti di akhirat. Hal itu berdasarkan firman Allah.
“Artinya : Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Dialah yang akan menggantinya. Dan Dia-lah sebaik-baik Pemberi rezki” [Saba : 39] [4]
Dan diketahui secara umum bahwa do’a malaikat adalah dikabulkan (Lihat Umdatul Qari, 8/307), sebab tidaklah mereka mendo’akan bagi seorang melainkan dengan izinNya. Allah berfirman.
“Artinya : Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya” [Al-Anbiya : 28]
[5]. Dalil Lain Adalah Apa Yang Diriwayatkan Oleh Imam Al-Baihaqi
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Berinfaklah wahai Bilal ! Jangan takut dipersedikit (hartamu) oleh Dzat Yang memiliki Arsy” [5]
Aduhai, alangkah kuat jaminan dan karunia Allah bagi orang yang berinfak di jalanNya ! Apakah Dzat Yang memiliki Arsy akan menghinakan orang yang berinfak di jalanNya, sehingga ia mati karena miskin dan tak punya apa-apa ? Demi Allah, tidak akan demikian!
Al-Mulla Ali Al-Qari menjelaskan kata “Iqlaalaa” dalam hadits tersebut berkata, ‘Maksudnya, dijadikan miskin dan tidak punya apa-apa’, Artinya. ‘Apakah engkau takut akan disia-siakan oleh Dzat Yang mengatur segala urusan dari langit ke bumi ?’. Dengan kata lain, ‘Apakah kamu takut untuk digagalkan cita-citamu dan disedikitkan rzikimu oleh Dzat Yang rahmatNya meliputi penduduk langit dan bumi, orang-orang mukmin dan orang-orang kafir, burung-burung dan binatang melata?” [Murqatul Mafataih, 4/389]
[6]. Berapa Banyak Bukti-Bukti Dalam Kitab-Kitab Sunnah (Hadits), Sirah (Perjalanan Hidup), Tarajum (Biografi) Tarikh (Sejarah), Bahkan Hingga Dalam Kenyataan-Kenyataan Yang Kita Alami Saat Ini Yang Menunjukkan Bahwa Allah Mengganti Rizki HambaNya Yang Berinfak Di Jalan Allah.
Berikut ini kami ringkaskan satu bukti dalam masalah ini. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda.
“Artinya : Ketika seorang laki-laki berada di suatu tanah lapang dari bumi ini, tiba-tiba ia mendengar suara dari awan, ‘Siramilah kebun si fulan!’. Maka awan itu bergerak menjauh dan menuangkan airnya di areal tanah yang penuh dengan batu-batu hitam. Di sana ada aliran air yang menampung air tersebut. Lalu orang itu mengikuti ke mana air itu mengalir. Tiba-tiba dia (melihat) seorang laki-laki yang berdiri di kebunnya. Ia mendorong air tersebut dengan sekopnya (ke dalam kebunnya). Kemudian ia bertanya, ‘Wahai hamba Allah!, siapa namamu ?’ Ia menjawab, ‘Fulan’, yakni nama yang didengar di awan. Ia balik bertanya, ‘Wahai hamba Allah!, kenapa engkau menanyakan namaku ?’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang menurunkan air ini. Suara itu berkata, ‘Siramilah kebun si fulan!. Dan itu adalah namamu. Apa sesungguhnya yang engkau lakukan ? Ia menjawab, Jika itu yang engkau tanyakan, maka sesungguhnya aku memperhitungkan hasil yang didapat dari kebun ini, lalu aku bersedekah dengan sepertiganya, dan aku makan beserta keluargaku sepertiganya lagi, kemudian aku kembalikan (untuk menanam lagi) sepertiganya” [Shahih Muslim, Kitab Az-Zuhd wa Raqaiq, Bab Ash-Shadaqah alal Masakin, no. 45 (2984), 4/2288]
Dalam riwayat lain disebutkan.
“Artinya : Dan aku jadikan sepertiganya untuk orang-orang miskin dan peminta-minta serta ibnu sabil (orang-orang yang dalam perjalanan)” [Op. cit, 4/2288]
Imam An-Nawawi berkata : “Hadits itu menjelaskan tentang keutamaan bersedekah dan berbuat baik kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Juga keutamaan seseorang yang makan dari hasil kerjanya sendiri, termasuk keutamaan memberi nafkah kepada keluarga” [Op. cit. 18/115]
[Disalin dari buku Mafatiihur Rizq fi Dhau’il Kitab was Sunnah, edisi Indonesia Kunci-Kunci Rizki Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah hal 72-74, Penerjemah Ainul Haris Arifin, Lc. Darul Haq]
_________
Foote Note.
[3] At-Tafsirul Qayyim, hal.168, Lihat pula, Fathul Qadir oleh Asy-Syaukani 1/438 dimana dia berkata : “Fadhl (karunia) itu adalah bahwa Allah akan mengganti kepada mereka dengan sesuatu yang lebih utama dari apa yang mereka infakkan. Maka Allah meluaskan rizkinya dan memberinya nikmat di akhirat dengan sesuatu yang lebih utama lebih banyak, lebih agung dan lebih indah.
[4] Murqatul Mafatih 4/366. Sayyid Muhammad Rasyid Ridha berkata : “Makna do’a ini menurut saya adalah bahwa diantara sunnah-sunnah Allah adalah Dia memberikan ganti kepada orang yang berinfak dengan memudahkan sebab-sebab rizki baginya. Lalu Ia ditinggikan derajatnya di dalam hati manusia. Sebaliknya orang yang bakhil (kikir) diharamkan dari yang demikian” [Tafsirul Manar, 4/74]
[5] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (Lihat Misykatul Mashabih, Kitab Az-Zakah, Bab Al-Infaq wa Karahiyatul Imsak, no. 1885, dengan diringkas 1/590-591) Syaikh Al-Albani berkata, ‘Hadits ini shahih karena jalur-jalurnya’ (Hamisy Misyakatil Mashabih 1/591) Lihat pula, Majma’uz Zawa’id wa Manba’ul Fawa’id, 3/126, kasyful Khafa wa Maziliul Ilbas 1/243-244, Tanqihur Ruwat fi Takhriji Ahaditsil Misykat, Syaikh Ahmad Hasan Ad-Dakhlawi, 2/19
Langganan:
Postingan (Atom)
